Potret Bikers

All about automotive, photography, gadgets, culinary, & Travel

City Tour Blogger Community pengenalan Wisata Heroisme Kota Surabaya

Surabaya – tepat tgl.21 Mei 2016 kemarin, PB mendapatkan kesempatan untuk bisa mengenal lebih jauh tentang Heroisme di Kota Surabaya tercinta ini. Meskipun PB bukan asli Kota Surabaya, namun sudah berdomisili di kota Pahlawan ini sejak 2008 silam. Namun tentu saja keragaman wisata yang ada di Kota Surabaya ini belum sampai PB jelajahi hingga pelosok, apalagi tempat-tempat yang dianggap sebagai pintu sejarah kota Surabaya yang berhubungan dengan Kemerdekaan RI. Alhamdulillah, kemarin PB mendapatkan kesempatan itu dengan di suport Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tk. I . Inilah beberapa sejarah tentang Kota Surabaya, kenapa bisa jadi Kota Pahlawan…

Datang pk.08.00wib (tepat waktu sesuai undangan), ternyata masih belum ada tamu undangan lainya di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Dimana yang dulu terkenal dengan gedung “SIOLA” Surabaya, pernah menjadi mall pusat elektro. Kini telah disulap menjadi museum Surabaya dan perkantoran, utamanya Dinas Catatan Penduduk dan Dinas Pariwisata ini. Banyak sudut-sudut gedung yang masih mengalami renovasi, dan memang belum tertata 100%. Dalam schedule harusnya start untuk keliling ke tempat-tempat wisata yang telah direncanakan pada pk.09.15wib, molor jadi pk.10.00wib barusan saja keluar dari Gedung Siola menuju Bus Pariwisata yang telah disediakan di depan sejak pagi-pagi sekali. Untuk tujuan pertama adalah Hotel Majapahit – SBY ( dimana dulu adalah Hotel Yamato).

Hotel Majapahit ini adalah tempat pecahnya perang sekutu pada zaman setelah kemerdekaan, dimana disinilah tempat awal perobekan Bendera Merah-Putih-biru (Birunya diSobek, dan disisakan menjadi Merah-Putih). Dimana yang menimbulkan perang 100hari demi mempertahankan martabat Kemerdekaan Bangsa Indonesia melawan sekutu dibawah komando Inggris. Disini karena memang Hotel dan masih beroperasi hingga kini, para blogger hanya transit dalam bus saja. Lalu perjalanan dilanjutkan ke tujuan wisata lainya, yaitu menuju “Rumah HOS Tjokroaminoto & Rumah WOS“.

Rumah HOS Tjokroaminoto beralamatkan Jl. Peneleh gang 7, Rumah ini merupakan kediaman dari Haji Oemar Said (HOS). Yang merupakan ketua salah satu organisasi pergerakan Islam terbesar di Hindia Belanda, Sarekat Islam. Selain memang dijadikan rumah kost-kost’an oleh istrinya, juga sering dipakai untuk diskusi para aktivis muda dizamannya. Diantaranya yang kost disini adalah 5 orang termasuk dalam para pemimpin besar untuk menimba ilmu padanya, yaitu Semaoen, Alimin, Muso, Soekarno, Kartosuwiryo, bahkan Tan Malaka pernah berguru padanya, ia adalah orang yang pertama kali menolak untuk tunduk pada Belanda, setelah ia meninggal lahirlah warna-warni pergerakan indonesia yang dibangun oleh murid-muridnya, yakni kaum sosialis/komunis yang dianut oleh Semaoen, Muso, Alimin, Soekarno yang nasionalis, dan Kartosuwiryo yang islam merangkap sebagai sekretaris pribadi. Mekipun rumah sudah mengalami beberapa pemugaran, namun dari luar masih menmpakan keaslian zamah sejarah Bangsa ini. Lalu tak jauh dari Jl. Peneleh gang 7, yaitu adanya WOS (Warung Oemah Sejarah)tepatnya di Jl. Pelampitan Rt.04 Rw.02.

WOS (Waroeng Omah Sejarah) ini merupakan Spot Heroisme di Kota Surabaya juga. WOS adalah lebih tepatnya tempat lahirnya Cak Roeslan Abdulgani, Cak Roeslan Abdulgani lahir di Surabaya pada 24 November 1914. Saat remaja ia bergabung dengan Natipy, kepanduan yang berhaluan nasional. Ia juga menjadi anggota Jong Islamieten Bond serta Indonesia Muda. Waktu itu Indonesia Muda dianggap sebagai organisasi yang berbahaya oleh pemerintah Hindia Belanda. Setelah tamat dari HBS (setingkat sekolah lanjutan sekarang), Roeslan diterima di Openbare Europese Kweekschool, sekolah guru untuk orang Eropa, namum ia dikeluarkan karena ketahuan menjadi anggota Indonesia Muda. Ia juga pernah menjadi Ketua Pedoman Besar Indonesia Muda, setelah ketuanya yang lama, Sukarni menghilang karena dikejar-kejar Belanda. Dijaman penjajahan Jepang, ia memimpin gerakan Angkatan Muda, ia ikut merebut kekuasaan dari Jepang, saat Proklamasi Kemerdekaan. WOS kini dikelola oleh anak menantunya Cak Roeslan Abdgulgani, yang telah berhasil membuat rumah sejarah ini menjadi tempat nongkrong sekaligus belajar yang asyik. Lalu, perjalanan dilanjutkan lagi untuk menuju kampung lawas Maspati yang berada di Jl. Maspati – SBY (dekatnya Stasiun Pasar Turi).


Kampung lawas Maspati ini adalah merupakan kampung yang menjadi icon Kota Surabaya juga, beberapa kali penghargaan pernah disabetnya. Karena waktu saya kesana, memang Kampung Lawas ini memiliki masyarakan yang sangat kompak dalam bekerja sama untuk memajukan kampungnya. Beraneka ragam ketrampilan dan kegiatan, dijadikan satu untuk memperoleh suatu yang lebih bermanfaat bagi penduduk sekitarnya dan juga kampungnya. Ada pengrajin khusus camilan yang dari jahe, ada dari lidah buaya, ada ahli membuat gaun dari plastik daur ulang juga. Yang tak luput dari suatu penghargaan dalam lomba-lomba juga. Di dalam kampung lawas juga memiliki icon rumah yang masih berdiri kokoh sejak 1907 silam, tanpa mngalami pemugaran. Hanya sebatas lantainya dikeramik saja, karena adanya kelembaban yang sangat tinggi. Next route, yang merupakan tujuan akhir dari City Tour Surabaya kali ini. Adalah “Museum Kanker Indonesia“.

Museum kanker Indonesia ini merupakan museum satu-satunya yang ada di Kota Surabaya, di Indonesia bahkan bisa dibilang satu-satunya juga di Dunia. Sungguh luar biasa, dimana dalam Museum yang paling membuat orang tercengang adalah catatan skor yang selalu terhubung ke WHO. Dimana catatan ini menunjukan angka kematian di seluruh dunia (yang terecord) disebabkan oleh kanker Serviks, ketika saya memasuki museum masih tercata 53808jiwa. Namun begitu keluar dari sana sudah menunjukan angka 53815jiwa, padahal saya disana hanya sekitar ±20 menitan saja. Jadi bisa dibiang dalam waktu 20 menit, ada 7jiwa melayang karena Kanker Serviks. Jadi lebih baiknya kenali atau deteksi gejalan Kanker, karena jika mengenali sejak dini ada kemungkina bisa tertolong. Museum Kanker Indonesia berda di Jl. kayun 16-18 – Surabaya, Semoga perjalan kali ini bisa memberikan secuil gambaran tentang Kota Surabaya. Thanks 🙂

2 Comments

Add a Comment
  1. Surabaya..kota kenangan..walaupun cuma numpang kuliah, kota ini udah jadi rumah kedua buat ane..matur nuwun sharingnya Cak.. 🙂

    1. sami-sami,cak. Seneng bisa share info begini 😉 #SemogaAdaKesempatanDiLainWaktu 😉

Tinggalkan Komentarnya,kawan!!

Potret Bikers © 2017 Frontier Theme
%d blogger menyukai ini: