Potret Bikers

All about automotive, photography, gadgets, culinary, & Travel

Tag: Camera

Tips Photography : Repair Silica Gel, yang sudah memudar warnanya !! Tips hemat ala anak kost

Surabaya –  Silica Gel pastinya sudah tidak asing dong, buat kawan-kawan pemain fotografi. Karena piranti ini sangatlah penting sekali dengan dunia kamera, memang bukan penting di hasil pemotretanya. Namun lebih untuk merawat kamera agar tetap sehat dan terbebas dari jamuran. Dulu sekali, waktu PB masih sering mainan kamera DSLR piranti ini sangatlah tidak bisa lepas dari Dry Box. PB juga pernah bikin tips, Drybox murah (KLIK Disini). So kali ini mencoba ilmu baru yang memang kebetulan di dapatkan dari mbah yusob, dan ternyata Work 100% so makanya PB share dimari ilmunya. Biar semakin meluas, hehehe 😀

(lebih…)

Test Action Camera 8 Ten, for Test Ride All New Honda BeAT eSP

Tempo hari PB telah berhasil memimang action camera untuk melengkapi kegiatan ngBlog, meskipun bukan dari porduk yang ber-merk papan atas. Namun cukup bisa untuk merekam hasil kegiatan saat jalan-jalan, atau test produk baru dari dunia otomotif. Meskipun terbilang sangat low entry, ternyata hasilnya cukup lumayan untuk sekedar menggambarkan/menjelaskan isi dalam artikel yang sedang kita buat. Langsung saja buka hasilnya dibawah ini, buat yang penasaran 😉

(lebih…)

Tips memotret panorama, ketika jalan-jalan touring melintasi indahnya Alam

Kemarin mendapat sebuah request sekaligus pertanyaan dari kawan pembaca blog PB, yang isinya dia ingin mengabadikan semua perjalananya ketika jalan-jalan atau touring menikmati indahnya alam semesta raya. Dengan nyaman dan bisa bagus, yang didalam photo itu juga bisa ada dirinya. Tentu saja memang dalam mengabadikan sebuah perjalanan, pastinya kita juga ingin terlihat masuk dalam photo panorama itu. Biar tidak dikatakan hoaxs, so dari itu perlu alat yang sederhana untuk membantu memotret diri sendiri tanpa minta bantuan orang lain. Meskipun semua gadget, ataupun kamera DSLR bisa di kasih timer. So kita lari tinggal pasang gaya didepan kamera, namun terkadang itu tidak efisiensi waktu dan tenaga. Inilah tips sederhana, biar bisa pasang gaya sesuai hati dengan bantuan alat sederhana.

-Baca Selanjutnya Kawan->

Lensa zoom+tele vs Lensa Sapu jagad, pilih mana??

Kemarin ada PM masuk lagi by WhatsApp PB, dimana seorang kawan sesama blogger juga(enggan disebut namanya). Sedikit meminta masukan dari PB soal kegalaoanya dalam memilih lensa, sebetulnya beliaunya sudah memiliki beberapa lensa dasar yang memang sudah masuk dalam kategori lengkap. Sudah punya lensa Canon 18-55mm(kit), Canon 50mm f.1,8(fix), Tamron 75-300mm(tele). Sebetulnya ke 3 lensa itu sudah masuk dalam kategori lengkap dasar, yang artinya sudah memenuhi standart awal untuk menekuni dunia fotografi. Namun beliaunya ingin sedikit UpGrade gearnya, tentu saja itu memang sudah wajar. Nah dibawah ini pertanyaanya,kawan!! 😉

-Baca Selanjutnya Kawan->

Lenovo P780 vs Sony Xperia C, bikin galau lagi!!

Lagi-lagi seperti biasa, mendapat curhatan dari seorang kawan. Ya seperti biasanya, hanya sebatas tempat curhatan bukan PB yang mau beli. Kali ini datang dari HH agak level menengah, yaitu rentang dari harga kurang dari 3jt’an. Sesuai judul diatas, yang membikin galau adalah Lenovo P780 vs Sony Xperia C. Nah..kalau dilihat dari produk-produk diatas ini, sepertinya semuanya sama-sama dari merk yang meyakinkan. Namun namanya juga NewBie, so PB sendiri tak bisa memutuskan begitu saja. Walhasil, membukalah artikel / Trit poling seperti biasanya. Mohon sekiranya memperhatikan sepintas spesifikasi dibawah ini dan mau menyumbang klik pollingnya 😆 , thanks 😉

-Baca Selanjutnya Kawan->

Plug in PhotoShop Noisware, bikin photomu jadi sehalus sutra!!

Ngomongis soal photoshop pastilah sudah tidak asing lagi, lah wong emang software utama saat kita mainan photo. Ngomongin soal editing photo, PB paling tidak suka dengan sesuatu yang menggunakan hal ribet-ribet. Maunya yang instant dan cepat, yang penting hasil jadi bisa bagus 😉 . Makanya selalu mencari cara buat agar cepat menghasilkan, maklum saja kalau pas kena Jobs Editing yang banyak gitu selalu saja butuh waktu cepat.  Biar tidak mengecewakan klien, so buat yang sudah PRO abaikan saja cara ini. Ini berbagi ilmu buat yang newbie kaya PB, atau baru menggeluti dunia editing 😉 . Cekidot penampakannya 😉

-Baca Selanjutnya Kawan->

Ketika para FB bertemu di dunia maya ;)

Dalam dunia blogosphere sudah terlalu mainstream yang namanya para FB(FansBoy), dan ketika bertemu dalam komentar selalu saja menimbulkan perdebatan yang seru. Yang terkadang juga bisa menimbulkan istilah blognya kebakaran, namun kali ini PB membahas para FB yang bukan dalam dunia otomotif. Melainkan dunia Fotografi, kalau di dunia R2 sering kali yang berdebatan sengit adalah para FB Honda & FB Yamaha. Kalau dalam dunia fotografi, yang sengit adalah FB Canon & FB Nikon. Contohnya kecil, lihat screenshoot dibawah ini 😉

-Baca Selanjutya Kawan->

Apa itu Rule of Third??

Masih ada sambungan dengan artikel kemarin, tentang “Ingat pesan guru Fotografi, tempo doloe“silahkan klik linknya. Di artikel itu disentil soal 9 kotak emas frame, sebenarnya kata-kata itu adalah teknik untuk pengambilan suatu komposisi. Kalau biasanya yang sering dipakai adalah teknik pengambilan komposisi berdasarkan “Rule of Third” atau sepertiga bagian. Jadi seolah kita menghayal waktu membidik sebuah obyek, membayangkan adanya 9 kotak pembagi ini. Ibarat contoh, PB ambilkan foto yang kemarin saja. Biar tetap ada keterkaitan dengan tips dari sang master, hehehe 😉

-Baca Selanjutnya Kawan->

Ingat pesan Guru Fotografi, tempo doloe!!

Dulu PB waktu masih belajar memotret, bukan pure hanya otodidak saja. Namun ada yang bisa dianggap Guru, namun tidak formal seperti dalam dunia pendidikan. Dia adalah seorang teman, yang notabenya lebih senior soal photography (yang kini jadi wartawan sebuah tabloid otomotif taraf nasional). Selain memang PB rajin membeli buku dan membaca trik&tips dari internet, PB juga lebih sering sharing dengan sang Guru ini. Meskipun lebih sering hanya lewat dunia maya, bukan belajar dalam pendampingan khusus begitu. Itu terjadi tahun 2011, ketika PB masih menggunakan Camera Pocket 😉 . Jadi memang PB belajar memotret step by step, tidak langsung belajar dari DSLR.

-Baca Selanjutnya kawan->

3 kunci penting dalam memotret

Kali ini share opini pribadi dari PB tentang fotografi, buat yang sudah senior. Abaikan saja hal ini, namun PB ingin berbagi buat yang lagi getol belajar fotografi seperti PB(a.k.a. masih NewBie). Baiklah tanpa panjang lebar basa-basinya, karena waktunya sudah malam. PB terasa ngantuk juga, hehehe 😀

3 Kunci dalam memotret untuk menghasilkan photo yang bisa bercerita menurut PB adalah sebagai berikut:

Moment (Waktu/Saat/Timing), dalam dunia fotografi timing atau saat yang tepat untuk memotret itu sangat perlu dan penting. Semisalnya memotret landscape / city scape, biasanya saat yang tepat adalah ketika malam hari / siang hari. Kalau ingin menonjolkan langit, so ambil saat yang tepat waktu siang(langit biru) atau bisa juga saat Sun Rise & SunSet. Namun kalau ingin buat cahaya-cahaya kota lebih dramastis, tentu saja dengan mengambil saat malam. Dengan mengabaikan cahaya langit, karena ingin menonjolkan kerlap-kerlipnya cahaya lampu kota,mobil,motor,dsb.

Pencahayaan, dalam memotret sudah pasti wajib dalam memperhatikan yang disebut pencahayaan. Harus pandai-pandai untuk memanfaatkan cahaya yang ada, itu kalau pas lagi ada di OutDoor/Indoor kecuali di Studio(kalau studio, dengan dukungan berbagai system pencahayaan sudah pasti bisa di atur sesuai kehendak). Jadi kalau ngomongin pencahayaan, harus inget settingan ISO, Buka’an(f), dan Speed. Lalu perhatikan datangnya cahaya yang kuat dari mana, ketika jatuh mengenai obyek yang mau dipotret.

Angle (sudut pandang), dalam menentukan sudut pandang sudah pasti di ikuti yang namanya POI(Point of Interest) obyek mana, yang akan menjadi focus bidik’an memotret kita. Hal ini sangat penting, untuk membuat photo lebih bercerita. Untuk Angle sendiri dibedakan menjadi 3 dasar yaitu: Low Angle, High Angle, dan lurus dengan mata. Dimana kalau Low Angle(teknik pengambilan sudut dari bawah obyek), biasanya untuk menonjolkan kemegahan atau kesan yang tinggi. Sedangkan High Angle (teknik pengambilan sudut dari atas obyek) biasanya digunakan untuk menampilkan sebuah view yang luas, namun jika untuk memotret manusia jadi manusianya terkesan kerdil. Lalu Sudut lurus dengan mata(kamera), sudut pengambilan ini lebih menonjolkan keaslian obyek, misal saja dipakai untuk memotret Close-Up manusia/model.

Itulah beberapa opini pribadi PB, ketika sedang belajar dalam memotret. Kalau ada yang mau nambahin pengalamannya, silahkan di share dalam komentar di bawah ini. Semoga setiap artikel PB tentang fotografi, bisa menjadikan ajang tukar pengetahuan. Karena PB juga selamanya masih belajar, tak ada photo yang sempurna kecuali hanya rekayasa semata… heheh 😀

BONUS!!!

Bukan cabe-cabean :mrgreen: 😆 .

Mengenal flash diffuser

Dalam dunia photography, sangat banyak alat-alat untuk mendukung pemotretan. Selain lensa dan camera itu sendiri, tentunya tujuannya untuk membuat hasil photo yang lebih maksimal dan mempunyai nilai seni tinggi. Kali ini PB akan sedikit menguraikan tentang seputaran flash, sudah pada tahu tentunya apa itu flash kamera. Namun bukan soal flash intinya, tapi tentang accesories yang biasa menempel pada accesories flash. Yaitu “flash diffuser” dimana alat ini gunanya utama adalah untuk mengurangi pantulan cahaya dari flash yang kuat ketika mengenai obyek, yang biasanya terlihat mengkilap. Maka dengan menggunakan “flash diffuser” ini cahaya bisa lebih merata dan lembut, ketika mengenai obyek yang di potret. Banyak banget, berbagai macam jenis flash diffuser . Contohnya sebagai berikut:

“Flash Diffuser” untuk flash ekstenal (Sumber: Google)

Contoh gambar diatas, digunakan pada ujung flash eksternal. Jadi tida bisa digunakan di flash kamera internal, kecuali harus di akali dengan berbagai cara. Namun tentu saja hasilnya tidak bisa sempurna :mrgreen:

“Flash Diffuser” Untuk flash internal Kamera (Sumber: Google)

Contoh gambar diatas: Baru yang contoh ini, memang difungsikan untuk internal flash kamera. Namun tentu saja, untuk camera yang berjenis : DSLR, Prosumer, Mirrosless,dsb. Karena untuk memasangnya butuh tempat dudukan untuk pegangannya.

Contoh di atas semua itu adalah “Flash Diffuser” yang dimana dapat dibeli secara langsung di toko yang berjualan accesories kamera. Namun kalau saja kita lebih kreatif, dapat memaksimalkan benda-benda di sekitar kita. Contoh saja bisa dibuat dengan kertas, atau barang bekas yang lainnya. Contohnya sebagai berikut, Flash Diffuser buatan sendiri :

Sumber : flickr.com/photos/christian-dl/

Tidak selamanya harus beli, kawan. Jadi dengan contoh gambar diatas ini, itu kan menggunakan kertas yang ada. Hanya dengan menuntut kreatifitas tinggi, bisa menghasilkan sesuatu barang yang maksimal. Semoga bisa menginspirasi kawan semua, yang lagi menggemari dunia photography seperti saya. Terimakasih  😀

Mengenal Filter Lensa dan Fungsinya

Kemarin mengenal lebih dalam soal Camera DSLR, tapi kemarin sebenarnya lebih pas kalau Cara memaksimalkan Camera yang ada, hehehee… 😀 !! Kali ini PB akan men-Share tentang Filter lensa, tentunya sudah pasti tak asing dengan namanya filter lensa. Apalagi untuk Filter lensa UV, karena seringkali saat pembelian camera atau lensa mendapatkan bonus filter UV. Entah itu waktu beli 2nd, ataupun baru juga sering dapat promo mendapat Filter UV.

Filter ND, pinjem dari mbah “Google”

  • Filter Lensa UV : Biasa juga di sebut filter netral, karena memang tidak berpengaruh dalam warna hasil photo. Fungsi dari filter ini memang lebih mengarah ke pelindung saja, melindungi lensa dari goresan langsung atau cipratan air maupun debu. Jadi filter ini biasanya dijual sangat murah, daripada filter lainya.
  • Filter Lensa CPL: Filter lensa ini gunanya untuk mengurangi pantulan cahaya secara langsung, sehingga membantu lensa dalam mendapatkan warna kontras yang tinggi. Makanya Filter jenis ini seringkali dipakai para kalangan Fotografer pecinta Landscape/CityScape, guna mendapatkan warna langit yang lebih biru ataupun mengurangi pantulan genangan air secara langsung sehingga dapat menangkap jernihnya dasar air.
  • Filter Lensa Macro/Close Up : Filter lensa ini sesuai dengan namanya, sudah pasti tidak jauh dari memotret pada obyek yang memang sengaja di ambil kedetailannya. Misal saja memotret serangga yang kecil, namun ingin menonjolkan pori-porinya. Makanya Filter lensa ini sering di sebut juga Filter Diopter.
  • Filter lensa Specialt efect: Filter lensa ini, untuk memunculkan efek warna tertentu. Yang sering diJumpai dipasaran biasanya Filter Lensa IR(yang sempat kemarin PB bahas). Kalau camera mampu memberikan special efect, salah satunya dengan bantuan filter ini. Adalagi biasanya efek-efek lain, seperti efek star. Jadi ketika menangkap cahaya yang kuat, dia memberikan efect seolah memotret Bintang.

Filter UV, terpasang di Kit Canon 18-55mm (betulan dijual loch,kawan) 😀

  •  Filter Lensa ND: Filter lensa ND atau Neutral Density, memiliki sifat membantu mengurangi cahaya yang masuk ke sensor camera. Suatu misal ketika waktu memotret Ombak pantai yang deras, namun kita ingin memakai metode SS(Slow Speed) tentu saja photo akan OE(Over Exposure). Maka dengan bantuan filter ini, dapat mengurangi efek OE tadi.
  • Filter Lensa Color Correction : Biasa orang menyebutnya Filter lensa Cooling, karena dapat menyaring warna tertentu pada lampu tungsten. Namun karena saat ini sudah bisa memilah warna melalui White_Balance, jadinya filter ini jarang dijumpai lagi. Apalagi software photo saat ini, sangat banyak sekali untuk bisa menyaring suatu warna tertentu pada sebuah photo.

Itulah celotehan PB tentang Filter Lensa Camera, mungkin ada kawan yang lebih piawai dalam hal ini. Mohon di tambahi ya, karena sejujurnya PB jarang banget memakai semua ini. Selama ini hanya mengandalkan editing saja lewat photoshop, karena selain filter UV terkadang mahal-mahal juga harganya. Hehehe… 😀 #Efek kantong cekak, tetap ingin berkreasi.

BONUS:

Stok lama, ternyata masih menggoda 😀 (Waktu masih belajar dulu) 😀

Dry Box Murah, namun bermanfaat!!

Sebetulnya sudah lama PB menggunakan tips ini, sekitar 2 tahunan yang lalu. Tahu kan, Drybox? Box barang untuk menyimpan camera, lensa,dsb. Kalau dalam dunia photography benda sepele ini sangat wajib dimiliki para photographer. Kalau photographer yang berduit, beli jadi banyak sebetulnya ditoko-toko. Namun bagaimana kalau  photographer nekat semacam PB ini, yang masih ngeKost? So kan jalan terbaik namun tidak merogoh kocek terlalu dalam yang dimiliki, akan tetapi manfaat dan hasil tetap sama. Apa saja fungsi dari DryBox ini, adalah sebagai berikut:

  • Mencegah tumbuhnya jamur dilensa camera. karena efek udara lembab
  • Mencegah karet-karet di lensa maupun di camera melar, karena panasnya cuaca
  • Mencegah kerusakan bagian camera/handycam dari ancaman jamur

Karena bila camera sudah terserang jamur,dsb. Bisa menjadikan pengeluaran budged lebih tinggi untuk biaya service / cuci lensa. Biasanya cuci lensa berkisar Rp.250.000,- s/d Rp.750.000,- tergantung tingkat kesulitan dalam menservice lensa sendiri. Maka sebelum terjadi hal itu, siapkan alat sederhana ini :

  1. Drybox untuk buah/kue (Beli ditoko plastik ada, yang intinya kedap udara)
  2. Selica Gel (Selica gel ini ada yang elektrik, maupun berupa butiran padat)
  3. Serap air (seperti gambar)
  4. Hygrometer (pengukur kelembahan udara)

Perhatikan langkah-langkah dengan gambar berikut ini :

Siapakan selica gel, untuk dimasukan kedalam box bersama lensa+camera,dsb. Jangan lupa dilubangi plastiknya Selica Gel (biar bekerja sempurna), kecuali makai yang elektrik tinggal charger doang!! Tapi malah mahal sekitar Rp.100.000,-

Pasang Hygrometer (terlihat mirip jam) di dalam box, guna mengukur kelembaban suhu dalam box tersebut. Dulu PB beli alat itu (Rp.21.000,-)nggak tahu sekarang berapa 😀

Walau didalam box sudah ada Selica Gel, namun diluar box ada baiknya dikasih serap air (Harganya Rp.12.000,-)kalau sudah mencair, tingga refiil Rp.6000,-(kemasan). Gunanya untuk menyerap kelembabpan suhu di luar box.

Semua alat itu cuma menghabiskan biaya ± Rp.100.000,- saja. Sementara jika membeli yang langsung jadi, paling kecil saja masih Rp.350.000,-!! So kalau bisa menghemat Rp.250.000,- kenapa tidak?? Hehehee…. Toh, hasilnya juga sama kok. Sudah membuktikan dalam pemakaian selama ± 2 tahunan ini, semua alat bebas dari jamur terkutuk. 😆 Mungkin ada kawan yang pernah memakainya trik ini, atau mungkin model cara lain?? Silahkan share dimari….. #Indahnya berbagi# 😀

Potret Bikers © 2017 Frontier Theme
%d blogger menyukai ini: